Hot!

Permintaan Pasar Jahe Tinggi, Mau Untung? Baca Artikel Ini...

Produk Jahe bisa dibuat apa saja, terutama untuk rempah-rempah dan obat-obatan. Photo Doc.
BIZREVIEW- Meski ekspor rempah-rempah Indonesia diperkirakan masih akan meningkat pada tahun 2018 ini, namun peluang ini belum dapat dimanfaatkan secara maksimal oleh petani di Indonesia termasuk para petani jahe yang tersebar di berbagai wilayah pelosok nusantara.

“Selain karena keterbatasan lahan, juga pengetahuan petani akan pasar rempah-rempah juga masih sangat terbatas,” kata  Marsyan, salah satu ketua kelompok Tani di Desa Kahayya, Kabupaten Bulukumba, Provinsi Sulawesi Selatan, Minggu (6/5).

Karena itu, kata Marsan kelompok tani dibawah binaannya hanya menanam jenis sayuran yang mudah laku di pasaran saja. Marsan dan warga Bulukumba memang hanya bisa memanfaatkan lahan yang sangat terbatas melalui program Hutan Kemasyarakatan (HKm) yang difasilitasi oleh Sulawesi Community Fondation (SCF) bekerjasama dengan Kemitraan Jakarta.

Sementara Sukri (46), petani di Desa Semparung Parit Raden, Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat mengaku kewalahan menerima permintaan pasar Jahe dari negara tetangga, Malaysia. 

Dia sudah menjadi petani jahe dengan menggarap lahan  seluas 1,2 Hektare (Ha) sejak tahun 2014. Pada bulan Mei dan Juni 2018 ini Sukri akan panen sekitar 15-20 ton.

“Langganan saya dari Sarawak Malaysia membutuhkan 40 ton per hari. tapi  yang saya mampu produksi maksimal hanya 20 ton sekali panen,” kata Sukri. Kepada pengepul dari Sarawak Sukri mendapatkan harga yang lumayan, yaitu Rp26.000/Kg. 

Jahe yang sudah disortir, dibawa pengepul melalui distrik Serikin-Serawak (Malaysia). Dengan modal Rp 80 juta, Sukri bisa menangguk keuntungan hingga Rp300-an juta.   

Permintaan jahe merah sejak 2016 hingga sekarang  menurut Ketua Asosiasi Petani Jahe Organik (Astajo) Kabul Indarto bisa mencapai 4 ton per pekan, sedangkan jahe emprit 10 ton per pekan, jahe gajah bisa lebih dari 20 ton per pekan. 

Menurut dia permintaan jahe gajah sangat tinggi di Belanda sebagai bahan baku minuman. Belanda adalah negara pengepul jahe gajah  yang menjual lagi jahe itu ke beberapa negara Eropa lainnya dengan harga tinggi.  

Sementara itu eksportir rempah sekaligus pengurus Dewan Rempah Indonesia Sigit Ismaryanto mengatakan bahwa rempah-rempah yang digunakan untuk bahan obat, kosmetik, perfume, dan lain sebagainya memiliki potensinya masih sangat besar di pasar internasional.

Kandungan ajaib dalam sepotong jahe
Jahe merupakan tanaman rumpun berbatang semu yang diperkirakan berasal dari India dan Cina. Kemudian tanaman ajaib ini tersebar ke Jepang, Timur Tengah dan Asia Tenggara. Pada masa kolonialisme, jahe menjadi makin popular karena banyak diperdagangkan di Eropa. Hal ini karena khasiat dan rasanya yang pedas dan hangat.

Nama latinnya Zingiber officinale, di Indonesia namanya bermacam-macam, tergantung daerah.  Masyarakat Aceh menyebutnya halia dan beeuing, orang Dayak Salako menyebutnya lahia’, Dayak Iban menemukannya liak, Batak Karo mengenalnya sebagai bahing, orang Minangkabau menamakannya sipodeh. Penduduk Jawa Tengah, Jawa Timur dan Bali, menyebutnya  jae. Di Lampung, Madura, Gorontalo, dan Ternate, masing-masing menamakannya jahi, jha, melito, geraka dan lain sebagainya.

Rasa pedas dan hangat pada jahe terutama dikarenakan senyawa aktif yang terkandung di dalamnya, yaitu gingerol.

Dr Raymond R Tjandrawinata, PhD, Direktur Eksekutif Dexa Laboratories of Biomolecular Sciences (DLBS), mengatakan ada beberapa senyawa aktif dalam jahe yang bermanfaat untuk kesehatan.

“Diantaranya adalah gingerol, shogaol, hexahydrocurcumin dan masih banyak lagi. Fungsi utamanya untuk menghangatkan tubuh dan ada juga yang sebagai anti inflamasi,” kata Raymond sebagaimana dikutip dari  detikHealth. Gingerol biasanya terkandung dalam bentuk minyak berwarna kekuningan yang muncul ketika jahe diperas atau ditumbuk.

National Center for Biotechnology Information, US National Library of Medicine dan National Institutes of Health dalam studinya meneyebutkan bahwa  gingerol memiliki manfaat zat anti-inflamasi dan antioksidan yang baik. Tapi jika jahe dimasak, kandungan gingerol akan berkurang dan berubah menjadi zingerone yang kehilangan rasa pedasnya.

Selain itu jahe juga berkhasiat mengatasi infeksi bakteri, infeksi jamur, gangguan lambung, bahkan tumor. Dengan kandungan antioksidan yang dimilikinya, jahe dapat mengurangi resiko penyakit kanker dalam tubuh manusia, dan menghambat pertumbuhan kuman.  Kandungan lainnya adalah zat antikoagulan (anti pembekuan darah), yang lebih berkhasiat daripada bawang putih.

Di Indonesia Jahe paling banyak dimanfaatkan sebagai bumbu masakan, memberi aroma dan rasa yang khas. Rimpang jahe bisa diolah menjadi jus, sirup, roti, asinan, acar, manisan, dan permen. Belakangan bahkan ada yang menjualnya dalam bentuk ekstrak jahe berbentuk kapsul.

0 comments:

Posting Komentar